Arwana Come back
November 22nd, 2005 by ekoagusUntuk satu launching album, menunggu beberapa jam adalah hal yang membosankan. Dan itulah yang terjadi ketika band asal Pontianak, ARWANA merilis album barunya KAPUAS. Wartawan terpaksa harus menunggu beberapa jam yang sudah molor dari jadual. Untung saja penampilan ARWANA lumayan mengibur. ARWANA ternyata masih eksis. Setelah "hengkang" dari salah satu label besar lantaran "ketidaksiapan" materi opsi album ke-3, Yudi [drum], Hendri lamiri [biola], Yan [vokal], Wansyah [gitar], mengambil resiko dengan memilih indie label sebagai kekuatan distribusinya. "Karena sekarang kita siap dengan materi," ujar Yudi menanggapi pertanyaan TEMBANG.com tentang jalur distribusi yang mereka pilih. Dan Warung Apresiasi [Wapres] Bulungan, menjadi pilihan band yang pernah meraih Penghargaan Lagu Terbaik Versi Ballad & Country Anugerah Musik Indonesia [2000] untuk merilis albumnya kepada khayalak di Kamis [27/10/2005]. Wapres menurut Yan, vokalis, punya sejarah panjang lahirnya Arwana. "Lagu-lagu di album pertama Arwana [ASA - 1997], banyak diciptakan di tempat ini," ujarnya mengenang masa lalu. Sebenarnya, ARWANA termasuk punya prestasi yang luamayan. Menurut Fariz RM yang hadir di acara semalam, kelebihan ARWANA adalah memapu menciptakan lirik yang apik."Itu yang sampai sekarang tampaknya bisa dipertahankan," terang musisi lawas yang kini terlihat kurus. Album pertamanya sendiri sempat masuk nominasi Pendtang Baru Terbaik dan Lagu Terbaik Anugerah Musik Indonesia [AMI] 1998 silam. Album keduanya Nadi Khatulistiwa [1999] cukup mendapat respon positif dari penikmat musik di Indonesia. Sayangnya, setelah album kedua itu, ARWANA sibuk dengan persoalan materi dan label. Alhasil, enamtahunan "tergantung" tanpa ada kejelasan. Yang ada, beberapa personilnya seperti Hendri Lamiri sibuk dengan side job-nya. Album barunya ini, menurut personilnya, masih kuat dengan warna ARWANA yang dulu. Ada lagu lama milk Black Brother Hari Kiamat yang dikemas ulang. Kemudian lagu-lagu yang pernah akrab seperti Suka Sama Suka atau Patah Tumbuh Hilang Berganti [PTHB]. Yang jelas, album ini muncul dengan spirit baru tapi kekuatan lawas. Sementara kekuatan baru musik Indonesia sudah bermunculan dimana-mana. Akankah ARWANA bisa "nyolong" perhatian atau malah terseret sungai Kapuas yang makin deras? Seperti yang penulis sampaikan ke ARWANA dalam jumpa pers, seharusnya mereka tetap harus eksis karena punya bekal lagu yang bagus. Begitu?